Transformasi

Rumput Laut Sejuta Hektar di Sulteng

foto istimewa
752Dilihat

PALU, KOMPAS.com — Pemerintah Sulawesi Tengah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan bekerja sama dengan pengusaha dari Korea Selatan, mematangkan survei dan pengkajian untuk pengembangan rumput laut pada lahan satu juta hektar. Saat ini tim dari Korea, berkeliling di beberapa wilayah perairan di Sulteng untuk mendata dan mematangkan rencana tersebut. “Kami memang sudah menandatangani perjanjian kerja sama tahun 2009. Memang butuh waktu untuk merealisasikan karena bukan hanya terkait ketersediaan lahan yang satu juta hektar tapi juga teknologi dan tentu saja sumberdaya manusia. Tapi saat ini survei dan pengkajian makin matang. Mudah-mudahan terealisasi dalam waktu dekat,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, Hasanuddin Atjo, Kamis (11/8/2011) di Palu. Proyek rumput laut satu juta hektar ini, akan mengambil lokasi di Teluk Tomini, Teluk Tolo, Teluk Palu, Selat Makassar, dan Laut Sulawesi. Pendataan tersebut akan menentukan berapa hektar dari masing-masing wilayah perairan yang akan dijadikan lokasi budidaya rumput laut. Sulteng memang memiliki garis pantai yang cukup panjang, yakni lebih dari 4.000 km. Panjang garis pantai ini berpotensi untuk pengembangan rumput laut. Bila proyek ini jalan, rencananya Korea akan memanfaatkan rumput laut untuk bio energi. Untuk ini Korea akan menyiapkan teknologi dan bibit hingga pabrik. Adapun tenaga kerja sebagian akan melibatkan warga setempat. Teknologi yang mereka gunakan kelak tidak lagi membuat bibit rumput laut harus ditebar tiap 45 hari, tapi hanya sekali setahun. Yang diatur tinggal panennya saja. Ini juga akan mengurangi tenaga kerja dalam pembibitan atau penyebaran bibit. “Tapi walau teknologi yang mereka gunakan akan menghemat tenaga kerja, dalam praktiknya nanti, warga atau nelayan di sepanjang pesisir tetap akan dilibatkan dalam kerja sama,” jelas Hasanuddin. Rumput laut merupakan salah satu program unggulan di Sulteng. Kementrian Kelautan dan Perikanan bahkan menjadikan Sulteng sebagai salah satu wilayah yang akan dijadikan pusat rumput laut di Indonesia. Untuk pengembangan ini, pemerintah menetapkan tiga kluster masing-masing Kluster Selat Makassar dan Laut Sulawesi yang meliputi Palu, Donggala, Tolitoli, dan Buol. Adapun kluster Telik Tomini meliputi Kabupaten Parigi Moutong, Poso, Tojo Unauna, dan Luwuk, serta kluster Teluk Tolo yang meliputi Kabupaten Banggai Kpulauan, Luwuk, dan Morowali. Hasanuddin mengatakan, penetapan tiga kluster ini untuk memudahkan pengembangan rumput laut yang menjadi fokus pemerintah sejak beberapa tahun terakhir. Saat ini ada 106 hektar areal yang potensial untuk pengembangan rumput laut. Sayangnya hingga kini baru sekitar tujuh-delapan persen yang dimanfaatkan. Produksi rumput laut Sulteng pada 2009, adalah 750 ribu ton dan target tahun 2010, dari target satu juta ton, baru tercapai sekitar 800-an ton.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Rumput Laut Sejuta Hektar di Sulteng”, https://internasional.kompas.com/read/2011/08/11/21074071/Rumput.Laut.Sejuta.Hektar.di.Sulteng.

Hasanuddin Atjo

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: