Transformasi

Masyarakat Akuakultur dan Yayasan Hadji Kalla Kembangkan Budidaya Udang Modern

Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Cabang Sulawesi Selatan (Sulsel) di Durian Kondotel Suite, Kota Makassar, Sabtu (15/7/2018)
228Dilihat

Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Cabang Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Yayasan Hadji Kalla sepakat mengembangkan budidaya udang modern skala UMKM di Sulsel.

Kesepakatan ini diharapkan bisa menjadi inkubator bisnis bagi pengembangan budidaya udang modern skala UMKM di daerah ini.

Komitmen kedua pihak tersebut terwujud setelah diskusi di Durian Kondotel Suite, Kota Makassar, Sabtu (15/7/2018) lalu.

Ketua MAI Sulsel Dr Asmi Citra Malina SPi MAgr mengatakan, salah satu tugas MAI adalah memasilitasi masyarakat agar dapat mengakses teknologi di bidang kelautan dan perikanan khususnya budidaya atau akuakultur.

Mewakili Yayasan Hadji Kalla, Mohammad Zuhair ST Meng menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut karena sejalan dengan salah satu bidang program yayasan yaitu meningkatkan kapasitas UMKM.

“Hasil pertemuan ini, kami akan menyiapkan MoU (memorandum of understanding) dengan pihak MAI untuk mefasilitasi masyarakat pembudidaya udang untuk menerapkan teknologi budidaya udang modern skala UMKM dalam bentuk tambak percontohan,” tulis Zuhair melalui rilisnya via whatsApp, Minggu (15/7/2018).

Hadir dalam pertemuan itu antara lain adalah Kadis Kelautan dan Perikanan Sulsel Ir Sulkaf Latief MM, pengurus beberapa asosiasi produk akuakultur wilayah Sulsel dan pengurus MAI Korda Sulsel.

Turut hadir Kadis Kelautan dan Perikanan Sulteng Dr Hasanuddin Atjo sekaligus sebagai narasumber diskusi.

Hasanuddin juga adalah penemu teknologi budidaya udang modern yang disebut budidaya udang SUPRA intensif.

Temuan ini telah diimplementasikan di Kabupaten Barru sejak tahun 2012 oleh Ketua MAI Pusat Prof Rhokmin Dahuri.

Sulkaf mengemukakan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi gagasan ini dan akan memberikan dukungan penuh.

Apalagi meyakini reputasi dari Hasanuddin Atjo di bidang budidaya udang sejak puluhan tahun.

Hal yang menarik dari teknologi ini adalah tidak memerlukan lahan luas tetapi produktifitasnya mencapai 150 ton/ha/musim tanam (4 bulan).

Menurut Hasanuddin yang juga Wakil Ketua MAI Pusat, tadinya teknologi ini hanya diakses oleh pengusaha yang mempunyai modal besar karena investasinya miliaran rupiah.

Namun sejak 2018 (setelah melalui pengkajian 2 tahun) teknologi ini sudah dapat diakses oleh UMKM karena telah dilakukan rekayasa konstruksi tambak dari beton ke wadah plastik yang volumenya antara 50 – 75 m3 saja.

Sementara tambak konstruksi beton volumenya antara 1.000 – 3.000 m3.

Perbedaan material konstruksi dan volume tambak menyebabkan biaya investasi 1 unit usaha budidaya modern skala UMKM terdiri dari 6 kolam plastik yang ditopang kerangka besi terdiri dari 4 kolam budidaya 1 tandon dan 1 kolam IPAL.

Biaya proyek ini hanya sekitar 100 jutaan rupiah.

Sedangkan 1 musim tanam (4 bulan) menghasilkan udang sekitar 1.000-1.200 kg dengan nilai sekitar Rp 70 juta hingga Rp 80 juta dan keuntungan sekitar Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per musim tanam. Dalam setahun minimal 2 musim tanam.

Dalam sesi diskusi Dr Atjo antara lain menyarankan kepada MAI Korda Sulsel agar segera membentuk Klinik Konsultasi Bisnis dan Teknologi Akuakultur yang berbadan hukum. (*)

Penulis: Jumadi Mappanganro
Editor: Jumadi Mappanganro

Hasanuddin Atjo

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: